"Sampai tujuan yang aku ingin Terus jalan walau tak akan sampai Di tengah mimpi air mata mengalir Ku hapus dengan tangan ini - Boku no Sakura"

November di Langit Lain |2

-c-


[23 November 2015]

Maaf tulisanku sebelumnya serasa menggantung sesuatu yang tidak menggantung. Jujur aku tertidur bersamaan dengan penatnya badan ini, wajar saja aku baru saja pulang dari kuliah lapangan kedua di semester 1 ini, ya ke daerah Kulon Progo, Sleman, DIY.

Nah ini saat yang tepat untuk melanjutkan tulisan ini. Aku Ihsan Akmala seorang anak daerah yang masih sama seperti dulu, aku masih bandel, aku masih selengek-an , aku masih baper , dan aku masih terlalu bersemangat dan kuat dari ancaman putus asa! hehe

Kalau kalian sempat membaca postingan ku sebelum ini , bukan ... jauh di bulan Februari sampai dengan Maret , postingan masa lalu ku ketika aku masih menginjak masa SMA, postingan dimana aku masih memimpikan kuliah di salah satu universitas atau institut terbaik di Indonesia. Kondisi dimana aku masih belum tahu ada halangan apa di depan, kondisi dimana aku merasa kalau aku mampu melewati semua ujian dengan mudah, kondisi dimana aku overconfidence.

Dahulu ...
Setiap malam hanya aku habiskan dengan bermimpi dan berkhayal apa jadinya seorang anak desa ini bisa berkuliah di tempat yang sangat mengesankan. Bukankah hal itu akan membuat geger orang orang disekitarku , membuat bangga kedua orang tua ku, dan banyak lagi yang tidak bisa aku bayangkan. Keinginanku untuk berkuliah ditempat yang luar biasa itu tidak semata mata datang dari pribadi ku saja, ada banyak hal yang mendukung dan mendorongku untuk kesana, ya salah satunya termotivasi dari teman teman luar sekolahku yang bahkan punya motivasi untuk berkuliah di luar negeri.

Aku ini iri, tapi dalam konteks yang baik menurutku, aku sangat ingin menjadi seperti orang lain yang aku anggap luar biasa, tapi apa daya? ditengah lamunanku aku selalu dipatahkan dengan kondisi dan keadaanku . Aku bukan orang yang berada, kemampuanku juga bukan diatas rata rata , dan sekolahku juga adalah salah satu sekolah negeri yang berada di daerah dan kemungkinan untuk bersaing dapat dipastikan akan kalah. Tapi semakin aku terpatahkan untuk mengejar semuanya semakin keras dorongan dari dalam diri ini untuk berusaha membuktikannya.

Masih teringat jelas , ketika awal semester 2 di kelas 3 sekolah menengah atasku. Ketika itu disetiap dinding kelas di sekolah ku telah diisi tulisan , mimpi , dan harapan teman temanku untuk kuliah dimana dan ingin jadi apa. Sungguh energi positif yang sangat berguna.Semua orang punya mimpi, mimpi yang sangat luar biasa, ingin jadi dokter,ingin jadi polisi, ingin jadi insinyur,ingin jadi teknisi, ingin jadi guru, ingin kuliah di sana sini yang itu merupakan universitas-universitas terfavorite di Indonesia. Aku senang, setidaknya waktu itu mereka mempunyai mimpi yang besar.

Setiap anak bersemangat sekali menceritakan apa yang akan mereka usaha dapatkan. Mereka semangat untuk berusaha menuju universitas impian. Tapi , berbeda denganku, aku anak yang terlalu takut untuk menuliskan mimpiku di tembok sekolah, bukan karena aku tidak punya mimpi atau apa tapi alasan lebih tepatnya aku takut orang lain tau dan mencemoohkan mimpi ini, mimpi yang dahulunya aku fikir tiada ujungnya, biarlah apa yang ingin aku dapatkan aku simpan erat-erat sampai waktu yang akan sampaikan.

Setiap pagi ketika aku kesekolah aku selalu tersenyum, bahagia rasanya setiap hari selalu di berikan energi positif dari tulisan teman temanku walaupun aku sendiri tidak menulisnya dan betapa egoisnya diri ini ketika hanya ingin menerima tapi tidak ingin memberi, maafkan aku pada waktu itu, tapi itulah solusi terbaik pada saat itu.

Waktu terus berjalan, tapi jujur saja enam bulan terakhirku di sekolah seakan cepat berlalu, entah kemana aku habiskan waktu terakhirku atau aku sibuk untuk berkhayal dan bermimpi secara berkepanjangan? entahlah.

Masa sekolah akan menemui batasnya sebentar lagi, anak kelas 3 angkatanku sudah mulai disibukkan dengan tugas akhir menuju uas yang luar biasa banyak. Tidak hanya tugas yang memberatkan dan terlalu banyak tapi juga diselingi dengan ujian Try Out menuju UN juga harus menyapa di sela sela kesibukan ini, kerut kening pada wajah anak kelas 3 telah tampak disaat keadaan akan berpisah masih saja tugas membebani benak kami.

Hari-hari berangkat jam 6 pagi pulang jam 6 malam pun aku rasakan, penat, tapi semua itu demi tugas akhir ini. Tapi sibuknya kegiatan kami tidak membuat kami berputus semangat, suasana sekolah seakan menahan kami untuk menahan kami lebih lama di sekolah, sekolah serasa semakin nyaman dari biasanya. Dan timbul lah rasa takut untuk pergi dan berpisah dari kenyamanan ini ...

Hari-hari bersama tugas, hari hari dengan Try Out sangat menguras emosi dan tenaga. Dan betapa lebih mengecewakan ketika tahu nilai Try Out pertama jauh dari harapan,sudah kubilang aku hanya anak biasa-biasa saja dengan kemampuan rata-rata, hasil itu juga sebagai pelecut semangatku dan reminder jika ingin bersaing di skala yang lebih besar.

Sejak saat itu aku jad hardworker , aku serasa melampaui batas ku, aku merasa terlalu keras berjuang untuk semua yang ingin aku dapatkan dan Alhamdulillah menunjukkan progres yang mengmbirakan. Setidaknya dengan nilai Try Out ku sekedar kata lulus di Ujian Nasional dapat aku raih. Tapi sekarang yang jadi concern utamaku bukan itu, disaat yang bersamaan dengan kesibukan pendafataran SNMPTN telah dibuka, pendaftaran siswa undangan tanpa tes kepada siswa siswi yang mempunyai nilai yang cukup baik. Huaah!

Disinilah kebingungan dan keputus asaan bermula...

-c-


"Bahkan ketika kamu mulai letih dan berputus asa dengan semua yang kamu hadapi kembali ingat apa yang membuat mu ada ditempat itu, ingat kembali perjuangan dan semua yang telah kamu korbankan" - Pemilik Blog Tampan.

 


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

@Copyrigth 2015 Ihsan Akmala . Diberdayakan oleh Blogger.