"Sampai tujuan yang aku ingin Terus jalan walau tak akan sampai Di tengah mimpi air mata mengalir Ku hapus dengan tangan ini - Boku no Sakura"

November di Langit Lain |3

[29 Desember 2015]

Malam memang selalu begini, selalu menyimpan sesuatu yang luar biasa indah di balik raut wajahnya yang kelam. Malam ini sudah hampir penghujung bulan Desember tapi judul post ku masih November di Langit Lain haha mungkin kenangan November memang susah untuk dilupakan.

=============================================================================================

Maaf harus menunggu lama, sulit juga memutar kembali memori ini menuju tempat dan suasana yang aku inginkan.

Entahlah waktu itu tepatnya tanggal berapa, yang pasti itu sebelum bulan April. Pengisian form SNMPTN pun sudah bisa dimulai, semua teman-temanku terlihat antusias, anak-anak kelas 3 terlihat mulai pro aktif mencari guru guru yang dulunya mereka berharap tidak akan bertemu lagi, hahah ya untuk menuntaskan nilai yang sempat tidak tuntas dahulu.

Berlanjut dengan sibuknya teman-teman ku yang mencari guru "favorit" mereka , disisi lain teman teman ku yang merupakan jagoan nya sekolah (kalau diingat ingat ini seperti dua sisi mata uang yang berbeda ) malah dipusingkan dengan universitas mana yang akan mereka pilih.Pokoknya suasana sekolah saat itu memang berubah drastis, tiada lagi try out tiada lagi uas tiada lagi Ujian Nasional yang sebenarnya semakin dekat saja.

Suasana sekolah menjadi kacau,semua orang punya harapan dan semua orang ingin berharap lebih.Semua orang mendadak menjadi egois kala itu,mereka yang punya nilai lebih dibandingkan yang lain bisa memaksakan kehendak mereka ingin dimana,mereka yang nilainya lebih bisa bebas saja memilih semua yang mereka sukai tanpa memikirkan orang lain yang sudah bertahan sejak lama dengan apa yang ingin ia pilih. . Tapi itu wajar, itu tidak bisa disalahkan. Semua yang mereka lakukan kala itu sesuai dengan bagaimana perjuangan mereka sebelumnya, bagaimana mereka jungkir balik mengerjakan tugas sekolah,soal ujian dan semua yang berhubungan dengan nilai rapor, dan disanalah aku baru menyadari kalau persaingan itu kejam. Seleksi alam memang benar benar ada.

Jika aku gambarkan sekolah saat itu, saat itu saat saat dimana aku sangat benci sekolah. Setiap sudut ruangan sekolah semua orang membicarakan universitas,tahu apa mereka tantang universitas , tahu apa mereka tentang mahasiswa dan kampus dan tahu apa mereka dengan jurusan yang akan dipilih, kebanyakan hanya bicara gengsi dan hanya beberapa yang punya niat tulus dan jalan lurus menuju universitas.

Berjalan menyusuri sudut sekolah membuat ku harus punya telinga yang cukup tebal, tidak hanya teman seangkatan , adik kelas juga sibuk menanyakan kemana kakak kelasnya ingin berencana melanjutkan, entahah gunanya apa? untuk memotivasi diri? bull-tai, aku berani bicara seperti ini karena setahun sebelumnya aku juga melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukakan, ya embel embel ingin termotivasi nyatanya? Zonk!

Tiada lagi bicara tentang keakraban,tiada lagi futsal,tiada lagi PES, tiada lagi nongkrong. Semua topik topik dahulu tergantikan dengan universitas,jurusan,fakultas,apalah itu bahkan tidak sedikit yang memulai perdebatan tentang jurusan apa yang punya prospek paling menggiurkan,semua orang bersikeras dengan pilihan mereka merupakan pilihan terbaik dibanding pilihan lain,aneh.Hari terus berlalu,waktu menentukan pilihan semakin sempit,tidak sedikit yang sudah merasa kalau sudah mantap di jurusan dan universitas apa yang akan mereka tuju. Sekolah semakin tidak karuan,ini bukan sekolah, ini tempat adu gengsi dan adu keren cita-cita semu para muridnya.

Pagi ku disekolah tidak seindah dulu,embun pagi sekolah tiba tiba membuat gerah, panas terik siang di sekolah lebih membakar daripada sebelumnya.Semua murid kelas 3 tidak itu dikelas, dikantin,di wc, dilapangan upacara,di laboratorium,di musholla , di uks, dimanapun membicarakan jurusan-universitas. Teknik elektro,perminyakan,lingkungan sipil, kedokteran,arsitek, bla bla bla. Universitas Indonesia,Universitas Gadjah Mada,ITB,Universitas Padjajaran , bla bla bla hanya itu itu dan selalu itu yang aku dengarkan.

Disisi lain ...

Sudah puas menyeritakan bagaimana kondisi sekolah ku saat itu, sedangkan aku duduk berkhayal di ujung ruangan, disudut pembatas antar kelas bersama salah seorang teman ku,Ahmad. Kami berdua duduk tanpa bicara sepatah katapun, tapi aku tau dan dia pun tau di dalam pikiran kami ada banyak yang sedang kami coba selesaikan.Aku mulai cerita lain dengan sudut pandang lain ini dengan menyeritakan bagaimana cerita perjalanan si Ahmad ini. Jikalau aku bandingkan sekarang, perjuangan menuju bangku universitasnya begitu luar biasa.Ahmad adalah seorang anak yang tidak muluk-muluk, ia tidak pernah ingin bercerita tentang ia ingin kuliah dimana jurusan apa, bahkan dia berkata lebih memilih untuk bekerja setelah tamat SMA ini,walaupun aku tahu hasratnya untuk berkuliah sangatlah besar.

Ahmad adalah seorang anak yang cerdas menurutku,karena aku telah kenal dia sejak aku berada di sekolah menengah pertama dahulu. Jadi aku juga sedikit terkejut jika dia tidak terlalu ingin melanjutkan ke universitas. Perlahan ku coba yakinkan dia dan masuk ke dalam kehidupannya, hal apa yang membuat dia tidak terlalu ingin berkuliah padahal dia punya kemampuan jikalau menurutku.Hari hari kami lewati bersama semenjak pengumuman dibukannya pendaftaran SNMPTN itu. Kami lalui hari berdua melawan hiruk pikuknya sekolah yang membahas universitas itu.Perlahan kami berbagi cerita ,tapi tidak aku biarkan dia mengetahui cerita ku hingga dalam ,sedangkan aku berusaha mengetahui apa ceritanya sampai dasar,egoisnya aku. Awalnya dia tidak mau cerita terlalu jauh,tapi karena kelihaianku bergaul akhirnya dia perlahan menyeritakan semuanya. Dia ceritakan sebab musabab apa yang membuat dia tidak terlalu bergairah,hal apa yang seakan menahan langkahnya untuk melaju ke bangku universitas, seberapa besar mimpi dan hasratnya mengenyam dunia kampus ,dan hal apa yang ia lakukan semisal dia tidak menginjakkan kaki di kampus,akhirnya aku tahu.-c-

=============================================================================================


Hari sudah terlalu larut,ada baiknya cerita ini bersambung disini dulu.



"Jika sudah punya alasan untuk lari dan pergi, untuk apa kau berusaha kembali? Teruskanlah!" -Pemilik Blog Tampan



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

@Copyrigth 2015 Ihsan Akmala . Diberdayakan oleh Blogger.